Momen ketika Mark Watney terbangun dan menyadari bahwa dia adalah satu-satunya manusia di Mars mungkin adalah salah satu yang paling menegangkan dalam The Martian. Bayangkan saja, setelah badai dahsyat, dia ditinggal oleh timnya dengan harapan hanya tinggal kenangan. Dalam isolasi yang penuh tantangan ini, Watney harus menggunakan semua kepintaran dan keberaniannya untuk bertahan hidup di planet merah yang keras. Dia bukan hanya seorang astronot; dia adalah penggagas, seorang ahli pertanian darurat, dan kadang-kadang seorang komedian handal. Mengulik cara dia memecahkan masalah sambil bercanda dengan diri sendiri membuat kita tak bisa berhenti tersenyum sekaligus tegang melihat perjuangannya.
Satu hal yang menarik dari film ini adalah bagaimana semua elemen Saintifik dan drama disajikan dengan apik tanpa terasa membosankan. Penonton diajak ikut merasakan setiap kegagalan dan keberhasilan Watney sebagai proses pembelajaran hidup yang sangat luar biasa. Dari mencoba menumbuhkan kentang sampai menghitung berapa banyak waktu yang tersisa sebelum bantuan tiba, semuanya dilakukan dengan metode yang konyol namun brilian. The Martian tidak hanya mengisahkan tentang bagaimana bertahan hidup di ruang angkasa, tetapi juga memberikan pelajaran penting tentang harapan dan ketekunan. Perjuangan Mark yang tampak seolah tanpa akhir rasanya membawa kita ke dalam suasana campur aduk antara cemas dan mendorong semangat.






