Ketika melihat sosok karakter yang satu ini, rasanya sulit untuk tidak terpesona. Roofman, seorang ayah dengan latar belakang mantan ranger angkatan bersenjata, muncul di tengah tantangan hidup yang nyaris tak tertanggungkan. Dalam usaha memenuhi kebutuhan hidupnya dan anaknya, ia mengambil langkah nekat dengan merampok restoran fast food dengan cara yang sangat unik—melalui atap! Konsekuensi dari tindakan konyol ini semakin rumit ketika dia berusaha menyeimbangkan kehidupan ganda sebagai pencuri dan pria yang bersikap romantis. Momen di mana dia jatuh cinta pada seorang ibu cerai menambahkan bumbu manis pada kisah penuh aksi ini.
Di tengah suasana komedi dan drama yang kental, Roofman memperlihatkan perjuangan batin dari seorang pria yang terjebak antara pilihan buruk dan harapan akan masa depan lebih baik. Hidup selama enam bulan dalam sebuah toko mainan tanpa terdeteksi adalah petualangan tersendiri, tetapi ketegangan nyata mulai muncul saat masa lalunya membuntutinya. Menyaksikan bagaimana ia menghadapi dilema ini mengundang banyak tawa sekaligus simpati dari penonton. Siapa sangka bahwa sebuah keputusan sembrono bisa membawa seseorang ke dalam permainan kucing-kucingan yang mendebarkan? Dengan latar cerita yang terinspirasi dari kejadian sebenarnya, Roofman benar-benar menyuguhkan pengalaman sinematik yang tak terlupakan atau, setidaknya, sangat menggugah selera kita untuk melihat sisi lain dari sebuah kejahatan.






