Momen ketika kamu menyadari betapa rapuhnya kehidupan dan bagaimana satu kejadian bisa mengubah segalanya, itulah yang saya rasakan saat menonton “Irreversible”. Film yang disutradarai oleh Gaspar Noé ini memang menyajikan narasi yang sangat kuat lewat gaya penceritaan yang non-linear. Ceritanya berjalan mundur, mengajak kita untuk memahami tindakan brutal yang diambil dua pria ini dalam upaya membalas dendam setelah kekasih salah satunya menjadi korban kekejaman.
Dengan visual yang mencolok dan nada yang tak nyaman, setiap adegan menyentuh begitu dalam. Rasanya, setiap langkah mundur membawa kita sedikit lebih dekat dengan kegelapan dan keputusasaan. “Irreversible” bukan hanya memperlihatkan bagaimana kejahatan terjadi, tetapi juga penyesalan teramat dalam serta contoh nyatanya bagaimana nikmatnya cinta bisa berubah menjadi siksaan. Jika kamu adalah pencinta film thriller yang tidak takut menghadapi isu-isu berat, film ini sudah pasti cocok untuk ditonton.
Suasana gelap dan mendalam dari film ini bisa meninggalkan bekas di hati penontonnya. Menggugah pertanyaan tentang keadilan dan seberapa jauh seseorang akan pergi demi orang yang dicintainya, membuat kita berpikir jauh setelah layar mati. Andre dan Marcus, dua karakter utama dalam cerita ini, benar-benar menggambarkan betapa kompleksnya rasa marah dan cinta itu sendiri.






